Dari Affan hingga Gaza: Solidaritas Keadilan yang tak Mengenal Batas

Artikel ini sudah dimuat di Republika 30 Agustus 2025

Indonesia berduka. Nama Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tewas tertabrak mobil rantis Polri ketika sedang mengantar makanan, kini bergema di jalanan dan ruang-ruang publik. Affan bukan demonstran, bukan provokator, bukan lawan politik. Ia hanyalah seorang anak bangsa yang sedang bekerja mencari nafkah, namun nyawanya melayang karena kelalaian aparat yang tengah mengamankan aksi mahasiswa.

Tragedi ini mengguncang rasa keadilan kolektif. Di berbagai kota, demonstrasi meluas; mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan, tidak hanya memprotes keistimewaan DPR yang menetapkan tunjangan rumah Rp50 juta per bulan di tengah kesulitan ekonomi rakyat, tetapi juga menuntut tanggung jawab atas kematian seorang rakyat kecil yang tidak bersalah.

Seolah seluruh luka bangsa tumpah dalam satu momentum: ketidakadilan ekonomi, keserakahan elite, dan kegagalan negara melindungi warganya. Di titik ini, kita semua sepakat: fokus utama adalah keadilan bagi rakyat Indonesia. Rasa kehilangan keluarga Affan, rasa marah mahasiswa yang merasa dikhianati wakilnya, rasa getir buruh yang bekerja keras dengan upah minimum sementara DPR hidup dengan privilese. 

Semuanya adalah realitas yang tidak boleh diabaikan. Kepedulian kita pertama-tama dan terutama adalah untuk bangsa ini. Namun, justru dari kedalaman empati itulah kita bisa memahami lebih luas: bahwa penderitaan rakyat kecil ternyata memiliki wajah yang sama di banyak tempat di dunia.

Affan di Indonesia mengingatkan kita pada anak-anak Gaza yang kehilangan nyawa bukan karena salah, melainkan karena hidup di bawah sistem yang tidak adil.Affan hanya ingin mengantar makanan untuk pelanggan; rakyat Gaza hanya ingin mengantar anaknya ke sekolah atau membeli roti di pasar. Tetapi mereka sama-sama menjadi korban dari kekerasan struktural yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri.

Di sinilah pentingnya melihat keterhubungan. Ketika kita marah pada DPR yang hidup dalam keserakahan—memiliki gaji dan tunjangan berpuluh kali lipat dari UMR—, kita bisa melihat pola serupa dalam skala global: bagaimana kekuatan Zionisme menumpuk privilese di atas penderitaan rakyat Palestina.

Ketika kita menangisi Affan yang wafat di jalan, kita bisa merasakan lebih dalam duka orang tua Palestina yang kehilangan anaknya akibat bom. Rasa keadilan yang dilukai di sini sesungguhnya menghubungkan kita dengan rasa keadilan yang dilukai di sana.

Saat kita sangat peka dengan luka bangsa sendiri, nurani kita juga diajak untuk menyadari bahwa perjuangan keadilan adalah satu tubuh yang tak terpisah.

Membela Affan tidak membuat kita lupa pada Palestina; dan membela Palestina tidak membuat kita abai pada bangsa sendiri. Keduanya saling menguatkan, karena keadilan itu universal.

Pancasila mengajarkan hal yang sama. Sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, menuntut kita untuk peduli pada penderitaan manusia di manapun. Sila kelima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, mengingatkan bahwa perjuangan keadilan dimulai dari tanah air sendiri.

Maka, ketika kita konsisten memperjuangkan keadilan di sini, solidaritas kita untuk Palestina justru menjadi lebih otentik: bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena kita sungguh-sungguh memahami apa arti penderitaan akibat ketidakadilan.

Narasi besar yang harus kita bangun adalah ini: rakyat kecil, baik di Indonesia maupun di Palestina, sama-sama menjadi korban dari keserakahan dan sikap korup dan kekerasan terlembaga. Musuh kita sama: keserakahan yang merampas kehidupan, baik melalui kebijakan ekonomi yang timpang maupun melalui kolonialisme bersenjata.

Dengan menyuarakan keadilan untuk Affan, kita memperkuat suara keadilan untuk Gaza. Dengan mengingat Gaza, kita belajar untuk tidak membiarkan tragedi seperti Affan terus berulang di negeri sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa adalah: apakah kita mau membatasi kepedulian hanya pada garis batas negara, atau kita berani melihat penderitaan manusia sebagai satu kesatuan?

Affan telah menjadi simbol bagi bangsa ini bahwa rakyat kecil layak diperjuangkan. Gaza adalah simbol global bahwa keadilan tidak boleh mengenal sekat. Maka, bersuara untuk Affan sekaligus bersuara untuk Palestina bukanlah dua agenda yang berbeda, melainkan satu sikap moral: menolak keserakahan, menolak ketidakadilan, dan membela martabat manusia.

Apalagi, sebagaimana yang dilaporkan berbagai media, almarhum Affan sendiri adalah seorang pembela Palestina.

Di dinding rumah almarhum Affan yang sederhana, terpampang mural bertuliskan “Free Palestine”, lengkap dengan gambar bendera Palestina dalam bentuk tangan yang mengepal.

Artinya, dengan segala kesederhanaannya, Affan adalah seorang anak bangsa yang menangisi penderitaan Palestina. Salah satu harapan hidupnya adalah menyaksikan kemerdekaan rakyat Palestina. Sayang, Affan telah tiada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *