Membumikan Psikologi Islam: Menemukan Akar, Membangun Arah

Artikel ini sudah dimuat di Republika 15 Juni 2025

Meningkatnya angka bunuh diri di Indonesia—hampir 600 kasus dalam lima bulan pertama 2025 (data Pusiknas Polri)—serta temuan bahwa sepertiga remaja mengalami masalah kesehatan mental (I-NAMHS, 2022), merupakan peringatan serius bagi dunia pendidikan dan ilmu psikologi.

Dalam konteks krisis ini, wacana psikologi memperoleh urgensi baru. Ia tidak lagi sekadar kajian akademik, melainkan tawaran pendekatan yang mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, dan sosial khas Islam untuk merespons penderitaan batin secara lebih utuh.

Namun, perdebatan tentang definisi, dasar epistemologis, dan metodologi psikologi Islam masih berlangsung. Pertanyaan kuncinya tetap: Apakah psikologi Islam sekadar adaptasi religius dari teori-teori Barat, ataukah ia merupakan disiplin ilmiah yang tumbuh dari akar pengetahuan Islam sendiri?

Seiring bertumbuhnya program studi psikologi Islam di Indonesia, muncul kebutuhan mendesak untuk merumuskan pendekatan yang kokoh secara konseptual dan metodologis. Sebagai disiplin yang masih dalam tahap formasi, Psikologi Islam menuntut kejelasan identitas ilmiah, arah epistemik, dan konsistensi metodologis dalam pengembangannya.

Tiga pendekatan

Saat ini, setidaknya terdapat tiga kecenderungan utama dalam pengembangan psikologi Islam yakni pendekatan filosofis transformatif, pendekatan eklektik non-kritis, dan pendekatan integratif dialogis.

Pertama, pendekatan filosofis-transformatif. Ini adalah model pendekatan yang membangun psikologi Islam langsung dari khazanah Islam yaitu Alquran, hadits, filsafat Islam, dan tasawuf. Pendekatan ini tidak bergantung kepada psikologi Barat, melainkan berusaha membentuk kerangka keilmuannya sendiri secara mandiri dan konsisten.

Dalam pendekatan ini, penyusunan body of knowledge psikologi Islam menjadi langkah awal yang sangat penting—yakni menyusun fondasi teoretis, metodologis, dan konseptual yang benar-benar berakar pada worldview Islam. Ini bukan sekadar adaptasi terminologi, melainkan kerja ilmiah yang mendalam dan filosofis.

Pendekatan ini barangkali bisa dirujukkan kepada tradisi neo-Sadrian, yang berkembang dari pemikiran Mulla Sadra dan diwarisi oleh pemikir-pemikir kontemporer yang berusaha merevitalisasi filsafat Islam secara kreatif. Neo-Sadrianisme dikenal dengan kritiknya yang tajam terhadap akar tradisi epistemologis dan ontologis filsafat Barat modern. Menurut mereka, selama pemikiran kita masih terperangkap dalam kerangka positivisme, materialisme, atau skeptisisme yang khas filsafat modern, maka pembicaraan tentang jiwa (yang menjadi inti Psikologi) tidak akan pernah menemukan pijakan yang kokoh.

Dalam pandangan Neo-Sadrian, kita membutuhkan epistemologi yang memungkinkan manusia untuk mengetahui realitas spiritual secara sah—yakni ma’rifah sebagai bentuk pengetahuan intuitif yang bersumber dari pencerahan ruhani dan penyaksian batin, bukan sekadar rasionalisme diskursif apalagi empirisme semata. Tanpa ini, kita akan kesulitan menetapkan ontologi jiwa secara ajeg. Dan jika ontologi jiwa tidak bisa dipahami secara konsisten, maka seluruh bangunan keilmuan tentang jiwa pun menjadi rapuh.

Psikologi dalam tradisi ini tidak cukup hanya menjelaskan perilaku atau proses kognitif, tetapi harus berani menjelaskan hakikat keberadaan jiwa manusia dan tujuan eksistensialnya. Karena itu, pendekatan ini memang menantang dan tidak mudah, bahkan mungkin terasa “mengguncang” bagi mereka yang terbiasa bekerja dalam paradigma sains modern.

Namun justru di sinilah keberaniannya: membebaskan Psikologi Islam dari ketergantungan konseptual pada Barat, sekaligus membuka cakrawala baru dalam memahami manusia sebagai makhluk spiritual yang dinamis dan berpotensi menuju kesempurnaan. Pendekatan ini menempatkan Psikologi Islam bukan sekadar sebagai cabang ilmu, tetapi sebagai gerakan intelektual yang menggabungkan antara rasionalitas, spiritualitas, dan nilai-nilai wahyu.

Kedua, pendekatan eklektik non-kritis. Ini menjadi semacam model pendekatan “cocoklogi” yakni menggabungkan elemen dari Islam dan psikologi Barat tanpa kerangka yang jelas.

Pendekatan ini sering kali hanya memetik istilah-istilah populer dari keduanya lalu dicampurkan tanpa pendalaman kritis. Hasilnya bisa menarik, bisa pula menyesatkan. Banyak kekeliruan terjadi, baik dalam memahami psikologi Barat maupun Islam, karena metode pencocokan ini sering tidak melalui kritik ilmiah yang hati-hati. Risiko inkonsistensi epistemologis sangat mungkin muncul dari sini.

Ketiga, pendekatan integratif: membangun body of knowledge psikologi Islam terlebih dahulu, kemudian membuka ruang dialog dengan pendekatan psikologi modern. Salah satu titik temu yang menjanjikan adalah Psikologi Transpersonal—arus dalam Psikologi Barat yang sejak awal mengakui pentingnya dimensi spiritual. Melalui jembatan ini, kita bisa mempertemukan tasawuf filosofis dengan teori-teori tokoh seperti Carl Jung, William James, Abraham Maslow, dan lainnya.

Dalam konteks ini, filsafat Islam memiliki banyak tawaran epistemologis yang kokoh. Membangun kerangka Psikologi Islam berbasis filsafat menjadi sangat penting. Tradisi filsafat seperti yang dibangun oleh Mulla Sadra, misalnya, dapat menjadi salah satu alternatif utama sebagai basis keilmuan spiritual dan intelektual.

Menimbang Jalan Ketiga

Jika pendekatan pertama dirasa terlalu mengejutkan atau menantang untuk segera diterapkan dalam konteks akademik yang sudah terbiasa dengan struktur psikologi Barat, maka pendekatan ketiga dapat menjadi jembatan ideal. Ia menjaga akar keislaman psikologi Islam sembari tetap membuka ruang keterlibatan konstruktif dengan tradisi ilmiah modern. Pendekatan ini memberi kita ruang untuk menyusun bangunan psikologi Islam secara bertahap namun berbobot, sambil tetap mengakui relevansi kontribusi psikologi kontemporer.

Apa pun pendekatan yang dipilih, penting untuk menempatkan psikologi Islam sebagai bagian dari proyek keilmuan yang serius dan bukan sekadar label simbolik. Ia harus ditopang oleh fondasi ontologis dan epistemologis yang kuat, bersumber dari nalar keislaman yang hidup dan mampu berdialog secara kritis dengan zaman.

Dengan demikian, masa depan psikologi Islam di Indonesia dan dunia Muslim akan sangat ditentukan oleh sejauh mana kita berani menggali akar dan membangun arah. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak stagnan. Tidak anti-Barat, tetapi juga tidak kehilangan identitas.

Semoga artikel ini menjadi pengantar yang mencerahkan dan menggugah para akademisi dan mahasiswa untuk menjadikan Psikologi Islam bukan hanya sebagai nama, tetapi sebagai jalan ilmu dan transformasi peradaban.

*Tulisan ini dikembangkan dari catatan tokoh cendekiawan Muslim Indonesia, Dr Haidar Bagir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *