Sikap Diam Kita yang Membunuh Gaza

Artikel ini sudah dimuat di Republika 2 Agustus 2025

Langit Gaza kembali merah, bukan oleh senja, tetapi oleh api yang turun dari langit buatan manusia. Anak-anak terbangun bukan karena mimpi, tapi karena suara ledakan yang mengoyak malam. Di balik reruntuhan itu, seorang ibu memanggil nama anaknya. Di atas puing-puing itu, seorang anak memanggil nama ibunya. Tapi dunia terlalu sibuk menunduk pada peta, protokol, dan kepentingan untuk sekadar menengok suara mereka.

Di tengah porak-poranda, manusia memanggil manusia lain. Namun tak banyak yang datang. Beberapa memilih diam, dan sebagian lagi menatap dari kejauhan—dengan mata penuh kalkulasi dan hati yang tertutup oleh lembaran diplomasi. Dunia Arab, yang dalam sejarahnya pernah menggemakan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan, kini sebagian memilih jalan sunyi: jalan yang tidak berkata apa-apa, dan karena itu justru lebih menusuk daripada makian.

Jalaluddin Rumi, penyair besar dari Timur, pernah menyatakan bahwa diam memang menjadi bahasa Tuhan. Tetapi, Rumi juga mengecam sikap diam ketika dunia menangis karena kezaliman.

Menurut Rumi, diam tidak selamanya melambangkan cinta, melainkan bisa merupakan tanda dari kepengecutan. Bagi Rumi, diam yang benar adalah bentuk perenungan menuju cinta ilahi. Tapi diam di hadapan tangisan anak-anak Gaza adalah diam yang bisu, kosong dari cinta. Ia bukan zikir, melainkan pengingkaran terhadap rahmat yang seharusnya menjadi napas seorang pemimpin dan bangsa.

Rafah adalah nama gerbang. Tapi bagi rakyat Gaza, ia lebih dari sekadar perbatasan. Ia adalah napas yang tertahan. Ketika bantuan tertahan di luar, dan korban luka-luka menumpuk di dalam, dunia menjadi dua bagian: mereka yang berusaha menolong meski dari kejauhan, dan mereka yang memegang kunci gerbang tapi memilih tak membukanya.

Tentu kita paham, negara bukanlah manusia. Dia adalah konstruksi dari strategi, stabilitas, dan keamanan. Tapi negara dijalankan oleh manusia, oleh mereka yang seharusnya masih memiliki hati. Ketika suara rakyat menggema di jalanan, mengangkat poster dan seruan untuk Gaza, suara itu kadang tak sampai ke istana yang terlalu sunyi. Di sana, di ruang pendingin diplomasi, urusan kemanusiaan kadang dianggap gangguan.

Jean-Paul Sartre berkata bahwa bahkan ketika seseorang tidak memilih, dia tetap telah memilih—yaitu memilih untuk membiarkan segala yang salah terus berjalan. Elie Wiesel, penyintas Holocaust, menulis bahwa lawan dari cinta bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian. Dan kini, di tengah derita yang begitu telanjang, ketidakpedulian menjadi bentuk paling kejam dari kekerasan yang tak terlihat.

Namun, suara Rumi kembali memanggil dari kedalaman spiritualitas Timur. Rumi mengajak kita agar tidak puas hanya menjadi penonton kehidupan. Jika kita melihat luka, jadilah obat. Jika kita melihat api, jadilah air. Seruan ini bukan sekadar puisi. Ia adalah perintah lembut dari jiwa yang peka. Dan dunia kini sedang melihat luka terbesar abad ini, tetapi sedikit yang ingin menjadi obat. Banyak yang takut terbakar, tapi tak cukup yang rela menjadi air.

Gaza bukan sekadar nama tempat. Ia adalah cermin bagi nurani kita. Di sana, bukan hanya tubuh yang dihancurkan, tapi juga harapan. Ketika gerbang tetap tertutup dan suara-suara dibungkam oleh protokol, kita bukan sedang mempertahankan kestabilan, melainkan sedang melatih diri menjadi kebas. Dan kebas adalah lawan dari iman, lawan dari cinta, lawan dari kehidupan. Mungkin kita tak bisa membuka gerbang Rafah. Tapi kita bisa membuka gerbang hati. Mungkin kita tak punya senjata, tapi kita punya kata, punya keberpihakan, punya solidaritas yang lahir dari kemanusiaan.

Karena seperti kata Rumi, tugas manusia bukan mencari cinta, melainkan mencari dan menemukan semua penghalang dalam diri yang menghalanginya dari mencintai.”

Gaza adalah cinta yang sedang dipenjara. Dan dunia akan bertanya pada kita, suatu hari nanti: ketika cinta itu disalib di depan matamu, apakah kau memalingkan wajah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *