Nahdlatul Ulama’s (NU) Perspective on LGBT: Between Moderation and Rejection

(Artikel jurnal terakreditasi Sinta 2)
Studi ini mengkaji bagaimana Nahdlatul Ulama (NU) mempraktikkan moderasi Islam sekaligus menolak perilaku LGBT. Berbasis analisis dokumen resmi dan wawancara mendalam dengan sejumlah aktivis Muslimat NU, penelitian ini menunjukkan bahwa penolakan NU terhadap LGBT berakar pada dalil Al-Qur’an dan Hadis, diperkuat oleh pertimbangan sosial-budaya serta prinsip moderasi organisasi. Penolakan tersebut dilembagakan melalui fatwa dan pernyataan resmi—terutama Fatwa NU 2016—yang melarang hubungan sesama jenis, namun secara tegas menolak diskriminasi dan kekerasan terhadap individu LGBT. NU mengedepankan pendekatan edukatif, rehabilitatif, dan dialogis, bukan represif, dalam kerangka Islam Nusantara. Temuan ini memperlihatkan model moderasi Islam yang dinamis: teologis secara prinsip, namun inklusif dalam pendekatan sosial, serta relevan bagi pembuat kebijakan dan pemimpin agama di masyarakat majemuk.

Bencana Sumatera dan Suara Alam yang Kita Abaikan

Artikel ini sudah dimuat di Republika

Hujan yang turun di Sumatera beberapa hari terakhir bukan hanya hujan; ia seperti lembaran kitab yang terbuka satu per satu, memperlihatkan tulisan-tulisan lama yang selama ini kita abaikan. Sungai-sungai yang biasanya berbisik pelan kini mengaum, membawa lumpur dan batang-batang pohon yang tumbang seperti kenangan yang tercerabut paksa. Di desa-desa yang berdiri tenang di antara perbukitan hijau itu, hidup berubah dalam sekejap—rumah hanyut, tanah retak, dan jeritan manusia tenggelam oleh raungan arus yang tak lagi mengenal batas. Lebih dari delapan ratus jiwa hilang dalam hitungan jam; ratusan ribu orang kini berdesakan di tenda-tenda pengungsian, berusaha menemukan tidur yang tak kunjung datang.

Tragedi sebesar ini, tentu saja, tak boleh hanya kita baca sebagai rangkaian angka. Ada cara pandang lain yang harus kita hadirkan: sebuah seruan. Tragedi ini adalah seruan yang datang dari alam yang telah terlalu lama dipaksa bertahan, dari tanah yang lelah memikul beban ambisi manusia. Air yang selama ini kita anggap berkah datang kali ini sebagai pengingat. Ia menyusuri lembah dan pemukiman dengan cara yang tak pernah kita bayangkan, seolah hendak berkata bahwa keseimbangan yang kita abaikan sedang menagih haknya.

Continue reading “Bencana Sumatera dan Suara Alam yang Kita Abaikan”

Ancaman AI dalam Pandangan Filsafat: Teknologi atau Kita Sendiri?

Artikel ini sudah dimuat di Republika

Beberapa tahun terakhir, isu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence -AI) menjadi pembicaraan hangat karena dampaknya terasa langsung oleh kita. Kita dibuat terkejut bertubi-tubi ketika tahu bahwa begitu banyak hal yang bisa dilakukan oleh AI. Kita bangun tidur dan melihat berita yang ternyata ditulis oleh AI. Kita juga mendengar lagu yang dibawakan oleh mesin dengan aransemen AI. Kita sendiri bekerja ditemani AI. Sebagian dari kita bahkan menulis laporan atau merapikan presentasi menggunakan AI. Teknologi ini seperti angin baru yang menyelinap tanpa permisi, lalu tiba-tiba menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tetapi, seiring kekaguman itu, muncul juga rasa cemas: apakah suatu hari nanti AI akan mengambil alih pekerjaan manusia? Apakah ia bisa mengendalikan opini publik? Atau, dalam skenario yang lebih gelap lagi, mungkinkah suatu hari AI sendiri yang memutuskan untuk menggeser peran manusia dalam semua aspek kehidupannya?

Continue reading “Ancaman AI dalam Pandangan Filsafat: Teknologi atau Kita Sendiri?”

Ketika IOC Menyuruh Indonesia Bungkam Atas Genosida di Gaza

Artikel ini sudah dimuat di Republika

Keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) menjatuhkan sanksi kepada Indonesia karena menolak memberikan visa kepada atlet Israel sesungguhnya adalah pesan politik yang keras: bahwa dunia harus diam, bahkan terhadap genosida.

IOC menyebut tindakannya sebagai penegakan prinsip “netralitas politik,” seolah olahraga bisa hidup di ruang steril yang bebas dari moralitas dan kemanusiaan. Namun sesungguhnya, keputusan ini justru mengungkap paradoks besar, yaitu bahwa pihak yang mengaku netral sesungguhnya sedang memihak.

Continue reading “Ketika IOC Menyuruh Indonesia Bungkam Atas Genosida di Gaza”