Artikel ini sudah dimuat di Republika
Beberapa tahun terakhir, isu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence -AI) menjadi pembicaraan hangat karena dampaknya terasa langsung oleh kita. Kita dibuat terkejut bertubi-tubi ketika tahu bahwa begitu banyak hal yang bisa dilakukan oleh AI. Kita bangun tidur dan melihat berita yang ternyata ditulis oleh AI. Kita juga mendengar lagu yang dibawakan oleh mesin dengan aransemen AI. Kita sendiri bekerja ditemani AI. Sebagian dari kita bahkan menulis laporan atau merapikan presentasi menggunakan AI. Teknologi ini seperti angin baru yang menyelinap tanpa permisi, lalu tiba-tiba menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tetapi, seiring kekaguman itu, muncul juga rasa cemas: apakah suatu hari nanti AI akan mengambil alih pekerjaan manusia? Apakah ia bisa mengendalikan opini publik? Atau, dalam skenario yang lebih gelap lagi, mungkinkah suatu hari AI sendiri yang memutuskan untuk menggeser peran manusia dalam semua aspek kehidupannya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bergema di mana-mana. Namun ada cara lain untuk membaca persoalan ini, cara yang jauh lebih mendalam dan lebih manusiawi. Saya ingin mengajak pembaca melihat persoalan AI dari ketinggian pemikiran Mulla Sadra, filsuf besar dari tradisi Islam yang memandang dunia sebagai jaringan keberadaan yang saling bertaut. Seandainya kita bertanya kepadanya tentang kecerdasan buatan, mungkin ia tidak akan sibuk menebak apakah AI akan menguasai dunia. Ia justru akan balik bertanya: siapa manusia yang menciptakan teknologi ini, dan apa yang sedang ia pancarkan melalui ciptaannya?
Bagi Sadra, tidak ada yang hadir di dunia secara terputus dari sebabnya. Keberadaan apa pun, entah manusia, benda, atau perangkat, membawa jejak sumber yang menjadikannya ada. Sesuatu yang lahir dari kebaikan akan memancarkan kebaikan, dan sesuatu yang lahir dari ketidakteraturan akan menebarkan kekacauan. Dengan cara pandang ini, AI bukanlah makhluk baru yang berdiri sendiri; ia hanyalah keberadaan yang bergantung sepenuhnya pada manusia. Ia adalah bentuk wujud yang hadir melalui yang lain. AI bukan wujud mandiri, tetapi keberadaan yang mengikuti arah tangan yang membentuknya.
Sebab itu, AI tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari ambisi, keinginan, dan imajinasi manusia. AI belajar dari kata-kata yang kita ketik, dari foto-foto yang kita unggah, dari artikel yang kita baca, dari cara kita marah, bercanda, bahkan dari ketidaksabaran kita di media sosial. AI tidak memiliki hati untuk menilai atau menyaring. Ia tidak punya nurani untuk memilih mana yang adil dan mana yang keliru. AI hanya mengulang, mengatur ulang, dan memperbesar jejak-jejak yang ditinggalkan manusia dalam bentuk data.
Maka bila masyarakat penuh prasangka dan bias, AI akan memantulkan prasangka itu dalam skala besar. Bila ekonomi kita didorong oleh kerakusan, AI akan memperkuat logika efisiensi yang mengorbankan banyak orang. Bila kekuasaan ingin mengawasi, AI akan menjadi mata yang tidak pernah berkedip. Dalam dunia yang demikian, AI hanyalah cermin raksasa yang membesarkan wajah manusia, baik sisi yang terang maupun sisi yang gelap. Secanggih apa pun AI tampak, ia tidak lebih dari turunan keberadaan manusia, bayangan dari akal dan niat kita yang mengambil bentuk baru melalui teknologi.
Di sinilah letak persoalan paling mendasar. Kita sering membayangkan AI sebagai entitas baru yang akan melompati batas-batas moral manusia. Padahal AI tidak tahu apa itu moralitas. Ia tidak tahu apa itu kasih sayang, ketulusan, pengorbanan, atau kebaikan. AI hanya tahu pola. Yang ia lakukan hanyalah mengolah representasi. Dalam bahasa Sadra, pengetahuan AI hanyalah “ilmu yang hadir sebagai bayangan”, bukan pengetahuan yang hidup di dalam diri seperti intuisi, kesadaran, atau hikmah.
Ini sebabnya AI bisa terlihat jenius tetapi tetap bodoh; ia bisa memenangkan kompetisi catur, tetapi tidak mengerti apa itu kebahagiaan seorang anak ketika ayahnya pulang. Ia bisa memprediksi pasar saham, tetapi tidak mengerti apa itu kecemasan seorang ibu yang suaminya kehilangan pekerjaan. Ia bisa menulis puisi cinta, tetapi tidak merasakan cinta. Dan di ruang kosong itulah manusia harus mengambil peran: mengisi kekosongan moral yang tidak dimiliki teknologi.
Tetapi ironisnya, pada saat yang sama, manusia justru mengejar efisiensi, kecepatan, presisi, dan keuntungan tanpa menengok ke belakang, tanpa bertanya untuk apa semua ini. Kita menciptakan teknologi dengan daya sangat besar, tetapi tidak membesarkan jiwa kita agar mampu mengemban tanggung jawab itu. Kita mendelegasikan begitu banyak keputusan kepada algoritma, seolah-olah algoritma lebih bijaksana dari manusia. Padahal, tanpa landasan moral, teknologi hanya memperbesar kekacauan yang ada.
Jika hari ini AI terasa mengancam, itu bukan karena ia berkembang terlalu cepat, tetapi karena manusia tidak tumbuh secepat teknologi yang diciptakannya. Jiwa manusia tetap di tempat yang sama, sementara tangannya membangun mesin yang bisa mengubah dunia dalam hitungan menit. Sadra akan menyebut keadaan ini sebagai kegagalan “penyempurnaan jiwa”—kita mengembangkan alat, tetapi tidak mengembangkan manusia.
Maka solusi terhadap ancaman AI bukan sekadar regulasi, kode etik, atau algoritma yang lebih aman. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Yang paling kita butuhkan adalah kembalinya hikmah: kebijaksanaan yang memadukan akal, hati, dan nilai. Teknologi harus diarahkan oleh manusia yang matang, bukan oleh manusia yang hanya mengejar keuntungan dan kuasa. Kita membutuhkan kembali kesadaran bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah bebas nilai. Ilmu harus selalu menjadi kendaraan untuk satu tujuan tertentu.
Pada akhirnya, AI tidak sedang bangkit melampaui kita. Di hadapan AI, kita seolah hanya sedang menatap diri sendiri dalam cermin yang jauh lebih besar. Cermin itu meniru kita, memperbesar kita, bahkan kadang mempermalukan kita. Dan seperti semua cermin, AI mengajak kita bertanya: apakah kita menyukai wajah yang terlihat di sana?
Jika kita ingin teknologi membawa kebaikan, maka kebaikan itu harus dimulai dari manusia. Dalam bahasa Sadra: dunia bergerak naik atau turun mengikuti gerak jiwa manusia. AI hanyalah kendaraan; manusialah yang menentukan arahnya. Dan arah itulah yang hari ini, lebih dari kapan pun, perlu kita renungkan bersama.