Artikel ini sudah dimuat di Republika
Hujan yang turun di Sumatera beberapa hari terakhir bukan hanya hujan; ia seperti lembaran kitab yang terbuka satu per satu, memperlihatkan tulisan-tulisan lama yang selama ini kita abaikan. Sungai-sungai yang biasanya berbisik pelan kini mengaum, membawa lumpur dan batang-batang pohon yang tumbang seperti kenangan yang tercerabut paksa. Di desa-desa yang berdiri tenang di antara perbukitan hijau itu, hidup berubah dalam sekejap—rumah hanyut, tanah retak, dan jeritan manusia tenggelam oleh raungan arus yang tak lagi mengenal batas. Lebih dari delapan ratus jiwa hilang dalam hitungan jam; ratusan ribu orang kini berdesakan di tenda-tenda pengungsian, berusaha menemukan tidur yang tak kunjung datang.
Tragedi sebesar ini, tentu saja, tak boleh hanya kita baca sebagai rangkaian angka. Ada cara pandang lain yang harus kita hadirkan: sebuah seruan. Tragedi ini adalah seruan yang datang dari alam yang telah terlalu lama dipaksa bertahan, dari tanah yang lelah memikul beban ambisi manusia. Air yang selama ini kita anggap berkah datang kali ini sebagai pengingat. Ia menyusuri lembah dan pemukiman dengan cara yang tak pernah kita bayangkan, seolah hendak berkata bahwa keseimbangan yang kita abaikan sedang menagih haknya.
Continue reading “Bencana Sumatera dan Suara Alam yang Kita Abaikan”