Nahdlatul Ulama’s (NU) Perspective on LGBT: Between Moderation and Rejection

(Artikel jurnal terakreditasi Sinta 2)
Studi ini mengkaji bagaimana Nahdlatul Ulama (NU) mempraktikkan moderasi Islam sekaligus menolak perilaku LGBT. Berbasis analisis dokumen resmi dan wawancara mendalam dengan sejumlah aktivis Muslimat NU, penelitian ini menunjukkan bahwa penolakan NU terhadap LGBT berakar pada dalil Al-Qur’an dan Hadis, diperkuat oleh pertimbangan sosial-budaya serta prinsip moderasi organisasi. Penolakan tersebut dilembagakan melalui fatwa dan pernyataan resmi—terutama Fatwa NU 2016—yang melarang hubungan sesama jenis, namun secara tegas menolak diskriminasi dan kekerasan terhadap individu LGBT. NU mengedepankan pendekatan edukatif, rehabilitatif, dan dialogis, bukan represif, dalam kerangka Islam Nusantara. Temuan ini memperlihatkan model moderasi Islam yang dinamis: teologis secara prinsip, namun inklusif dalam pendekatan sosial, serta relevan bagi pembuat kebijakan dan pemimpin agama di masyarakat majemuk.

Masa Depan Integrasi Ilmu, Jalan Peradaban Muhammadiyah

Oleh: Dr. Otong Sulaeman

Sejak Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah lebih dari seabad lalu, kita semua tahu bahwa pendidikan adalah urat nadi gerakan ini. Bagi beliau, sekolah bukan sekadar ruang belajar baca-tulis, melainkan wahana untuk melahirkan peradaban baru. Di ruang kelas itulah beliau mengajarkan tafsir al-Qur’an dan fiqh, tetapi pada saat yang sama juga membuka jendela bagi matematika, ilmu bumi, dan pengetahuan modern lainnya. Inilah warisan paling penting Muhammadiyah: keyakinan bahwa agama dan ilmu tidak boleh dipisahkan.

Paradigma integrasi ilmu yang menjadi ciri khas pendidikan Muhammadiyah sesungguhnya adalah gerbang peradaban. Melalui integrasi ini, Muhammadiyah menolak dikotomi sempit antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”. Keduanya harus berjalan bersama, saling mengisi, dan saling memperkuat. Sebab tanpa ilmu agama, pendidikan kehilangan ruh dan arah; tetapi tanpa sains dan teknologi, umat Islam akan terus menjadi penonton dalam panggung besar sejarah. Integrasi ilmu adalah filosofi yang menjadikan Muhammadiyah berbeda sejak awal: sebuah ikhtiar menjadikan Islam tidak hanya bimbingan moral, tetapi juga kekuatan penggerak kemajuan zaman.

Selanjutnya: klik website Muhammadiyah

Darurat Altruisme dan Hikmah Idul Adha

Artikel ini sudah dimuat di Kompas 5 Juni 2025

Pada 6 Juni 2025, umat Islam di Indonesia kembali merayakan Idul Adha, hari raya kurban yang setiap tahunnya menghidupkan kembali kisah spiritual Nabi Ibrahim dan Ismail. Dalam ingatan kolektif umat, peristiwa ini bukan semata rekam jejak sejarah atau ritus keagamaan, melainkan simbol puncak ketaatan, ketulusan pengorbanan, dan cinta eksistensial seorang hamba kepada Tuhannya.

Namun, perayaan Idul Adha tahun ini hadir dalam lanskap sosial yang kian kompleks. Kita seperti berada di tengah situasi yang layak disebut sebagai darurat altruisme—yakni krisis mendalam atas semangat mendahulukan kepentingan bersama, menekan ego pribadi, dan berkorban demi nilai yang lebih luhur.

Meskipun altruisme masih dielu-elukan dalam simbol budaya dan retorika agama, realitas menunjukkan jurang yang kian lebar antara nilai dan praktik. Individualisme tumbuh subur, nepotisme menggerus rasa keadilan, dan korupsi mencemari ruang publik. Ini semua menjadi antitesis dari semangat pengorbanan yang seharusnya kita warisi dari Ibrahim.

Selengkapnya: klik Kompas